Kutelan Obat Canduku

Dari biasa menjadi lebih biasa. Hidupku semakin
monoton hingga detik dimana aku ingin menarikan penaku di atas beberapa carik
kertas bergaris nila dengan jumlah dua puluh lima baris untuk satu sisinya.
Masa demi masaku terlewati bersama ratusan bahkan ribuan butir pil kaplet yang
tersimpan rapi di laci meja belajar. Bungkusnya berceceran di dalam tong sampah
biru mungil di sudut kamarku hingga membuatku sulit untuk menghitung berapa pil
yang telah mampir di ginjalku.